“…Pandangan lain menyatakan bahwa penyembahan berhala bermula ketika masyarakat Makkah yang begitu mengagungkan Ka’bah dan kota suci Makkah, mengambil batu-batuan di sekitar tempat suci guna mereka bawa dalam perjalanan sebagai penghormatan dan obat kerinduan kepada Ka’bah. Ini kemudian sedikit demi sedikit berkembang, sampai-sampai bukan lagi batu-batuan di sekitar Ka’bah yang mereka ambil, tetapi juga yang berada di tempat yang lain.” — Prof. M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabawiyah
Pernyataan di atas menyingkap sebuah pola pergeseran kesadaran yang tragis namun teramat manusiawi. Sebuah objek fisik—sebuah batu sederhana yang awalnya dipungut sebagai pengingat atas tempat suci—secara bertahap bergeser dari alat pemantik ingatan (remembrance) menjadi objek pemujaan itu sendiri (veneration). Pertanyaan mendasar yang muncul dari fragmen sejarah ini bukanlah sekadar tentang evolusi kemusyrikan di Jazirah Arab pra-Islam, melainkan tentang mekanisme mental manusia: Mengapa pikiran kita begitu mudah terjebak untuk mengagungkan perantara dan melupakan tujuan dasarnya? Mengapa simbol memiliki kecenderungan historis dan psikologis untuk merebut hakikat yang diwakilinya?
Fenomena menggeser makna dari yang abstrak ke yang konkret ini dapat dipahami secara mendalam melalui kacamata psikologi kognitif dan ilmu perilaku. Pikiran manusia pada dasarnya memiliki keterbatasan kapasitas pengolahan informasi. Konsep yang abstrak—seperti ketuhanan, nilai moral, rasa cinta, atau identitas spiritual—membutuhkan pemrosesan kognitif tingkat tinggi yang menguras energi otak. Psikolog perkembangan Jean Piaget mengemukakan bahwa perkembangan pemikiran manusia sangat bergantung pada skema konkret sebelum mampu memahami abstraksi. Ketika manusia berhadapan dengan gagasan abstrak yang mahaluas, otak secara alami mencari sarana substitusi yang teraba dan terlihat.
Dalam ranah psikologi sosial dan teori tanda atau semiotika, fenomena pergeseran ini berkelindan rapat dengan apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai tahapan simulakra. Baudrillard menjelaskan bagaimana sebuah tanda awalnya mencerminkan kesadaran dasar, namun seiring waktu tanda tersebut justru menutupi, memalsukan, dan akhirnya menggantikan realitas asli. Batu yang diambil oleh para musafir Mekkah pada mulanya adalah penanda (signifier), sedangkan kesucian Mekkah dan kerinduan spiritual adalah apa yang ditandai (signified). Ketika proses pergeseran terjadi, penanda melepaskan diri dari acuan aslinya dan menjadi realitas berdiri sendiri yang disembah.
Secara psikologis, proses pembentukan berhala kecil ini difasilitasi oleh mekanisme pengondisian klasik (classical conditioning) dan substitusi stimulasi. Penelitian klasik dari pakar neurosains kognitif menunjukkan bahwa otak manusia memiliki sistem imbalan (reward system) yang merespons objek konkret secara lebih cepat dan intens dibandingkan abstraksi pikiran. Batu, gambar, atau objek fisik memberikan umpan balik sensori langsung: bisa disentuh, dilihat, dan dibawa. Sensasi taktil dan visual ini memicu pelepasan dopamin yang mengikat emosi seseorang pada objek tersebut. Seiring berjalannya waktu, asosiasi emosional yang awalnya ditujukan kepada Mekkah berpindah sepenuhnya kepada batu itu sendiri.
Bukti ilmiah mengenai pergeseran fokus dari tujuan akhir ke alat perantara ini diperkuat oleh penelitian psikologi perilaku tentang fenomena goal displacement dan intrinsic versus extrinsic motivation. Dalam studi ilmiah mengenai penetapan tujuan yang dilakukan oleh para peneliti perilaku, ditemukan bahwa ketika manusia diberikan alat atau prosedur untuk mencapai suatu tujuan, perhatian otak sering kali mengalami pemindahan secara bertahap dari tujuan akhir ke prosedur itu sendiri. Objek perantara memberikan ilusi kontrol (illusion of control). Mengendalikan sebuah batu jauh lebih mudah daripada mengendalikan kerinduan spiritual atau kepatuhan moral yang menuntut komitmen batiniah.
Di luar ranah sejarah agama purba, pergeseran dari makna ke simbol ini tampak gamblang dalam dinamika kehidupan modern sehari-hari. Fenomena berhala kecil ini hadir dalam bentuk yang lebih samar namun tak kalah destruktif. Dalam dunia pendidikan, gelar akademik dan angka indeks prestasi yang awalnya diciptakan sebagai indikator atau simbol penguasaan ilmu, sering kali dikultuskan menjadi tujuan utama, sementara dahaga akan kebenaran dan proses belajar justru tersisih. Dalam ranah perekonomian, uang yang diciptakan sebagai alat tukar atau perantara nilai barang dan jasa, bertransformasi menjadi objek akumulasi yang disembah demi gengsi dan kekuasaan semata. Bahkan dalam budaya populer, pengkultusan figur publik, merek busana, hingga simbol-simbol keagamaan lahir dari mekanisme psikologis yang persis sama: manusia memuja bungkusnya dan mencampakkan isinya.
Namun, mengabaikan fungsi simbol secara total juga merupakan pemikiran yang tidak proporsional. Perspektif antropologi budaya dan sosiologi agama menunjukkan bahwa simbol fisik memiliki peran krusial yang tidak bisa dihapus begitu saja dalam peradaban manusia. Antropolog Clifford Geertz menegaskan bahwa agama dan kebudayaan membutuhkan sistem simbol untuk mengkristalkan gagasan abstrak menjadi fenomena sosial yang konkret. Tanpa adanya simbol, ritus, atau objek fisik penanda, konsep-konsep spiritual yang rumit akan sangat sulit ditransmisikan lintas generasi. Simbol berfungsi sebagai jembatan kognitif yang menyatukan komunitas dan memberikan jangkar emosional bagi individu. Batu yang dibawa musafir Mekkah pada mulanya memenuhi kebutuhan psikologis yang sangat sah, yaitu jangkar memori (memory anchor) yang merawat identitas dan kohesi emosional di tengah pengasingan.
Batas tipis antara jangkar memori yang sehat dan pengkultusan yang destruktif terletak pada sejauh mana tingkat kesadaran manusia mampu menahan diri dari godaan objektifikasi. Kegagalan mempertahankan pemisahan mental antara penunjuk jalan dan tempat tujuan inilah yang mengubah alat bantu menjadi penjara kesadaran. Ketika kapasitas reflektif manusia menurun, objek yang seharusnya hanya menjadi sarana penunjuk arah secara perlahan mengambil alih peran sebagai tempat tujuan itu sendiri.
Sintesis dari perjumpaan antara narasi sejarah Sirah Nabawiyah dan temuan ilmu perilaku menyimpulkan bahwa kecenderungan manusia untuk menciptakan berhala-berhala kecil merupakan sebuah kerentanan kognitif yang bersifat universal. Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk menyederhanakan hal-hal yang rumit menjadi objek yang mudah digenggam. Pengkultusan tidak selalu lahir dari niat jahat untuk membangkang pada hakikat, melainkan sering kali berakar dari rasa rindu yang teramat sangat, kerentanan jiwa, serta keterbatasan otak dalam memeluk keabstrakan tanpa bantuan sarana fisik.
Pemahaman ilmiah ini menggeser cara pandang kita terhadap kutipan Prof. M. Quraish Shihab. Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik teologis terhadap perilaku kaum musyrikin zaman dahulu, melainkan sebuah peringatan psikologis yang relevan sepanjang zaman. Berhala tidak selalu pahatan batu atau patung perunggu di kuil purba. Berhala bisa menjelma menjadi ideologi yang ditelan kaku, rutinitas ritual yang kehilangan jiwa, atau objek sosial apa pun yang kita posisikan di antara diri kita dan kebenaran yang sejati.
Pada akhirnya, refleksi mendalam dari fragmen sejarah ini menuntut kita untuk senantiasa menguji setiap objek, norma, dan sarana yang kita agungkan hari ini. Apakah batu-batu kecil yang kita genggam dalam kehidupan modern saat ini masih berfungsi sebagai pengingat menuju rumah kebenaran, ataukah tanpa kita sadari, batu-batu itu telah berubah menjadi berhala baru yang kita sembah di dalam pikiran kita sendiri?
Referensi Ilmiah
- Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press.
- Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. Basic Books.
- Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children. International Universities Press.
- Shihab, M. Q. (2018). Membaca Sirah Nabawiyah: Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih. Lentera Hati.
- Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. Macmillan.
- Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases. Science, 185(4157), 1124–1131. https://doi.org/10.1126/science.185.4157.1124












