Di serambi pesantren tua di tepi lembah, petikan dawai gambus Kyai Arqam berpadu lembut dengan desir angin senja. Jari-jemarinya yang terbiasa membalik lembaran kitab kuning menari di atas senar, melantunkan bait-bait puji-pujian yang menyusup ke relung dada siapa pun yang mendengarnya. Namun, bagi para tetua majelis di kota itu, petikan dawai dan gerakan tubuh yang berirama adalah sebuah noktah terlarang—sesuatu yang dianggap tabu dan merusak kemurnian ibadah seorang alim.
Suatu petang, kegelisahan para penjaga tradisi memuncak. Kyai Arqam dipanggil ke hadapan dewan ulama yang memandang dingin ke arah rebab kayu yang diletakkan di samping sajadahnya. “Wahai Kyai, bagaimana mungkin kesucian tauhid kau campur dengan tabuhan dan tarian yang melalaikan hati?” kecam salah seorang tetua dengan nada menghakimi.
Kyai Arqam tersenyum teduh, tiada setitik pun kilatan amarah di matanya. Alih-alih membantah dengan dalil yang saling berbenturan, ia menyandarkan rebab ke dadanya dan mulai menggesek senarnya perlahan. Gesekan pertama bukan sekadar bebunyian, melainkan ratapan rindu seorang hamba yang papa kepada Sang Pencipta. Bersamaan dengan itu, ia bangkit dan melangkah melingkar dalam ritme yang teratur—sebuah gerak pasrah laksana dedaunan yang bertasbih saat berputar ditiup angin rahmat.
Alunan nada itu merengkuh ruangan yang semula tegang. Di setiap ketukan, syair tentang keagungan Ilahi dan kefanaan manusia mengalir begitu jernih hingga meruntuhkan dinding-dinding keangkuhan akal. Tak ada godaan duniawi di sana; yang tertinggal hanyalah rasa gentar dan haru yang memuncak. Perlahan, tetua yang paling keras penolakannya mendapati air mata telah membasahi janggutnya tanpa ia sadari. Hati mereka tergoncang bukan oleh kayu dan senar, melainkan oleh getaran cinta suci yang dihantarkan melalui keindahan.
Kyai Arqam menghentikan gesekannya, lalu bersujud dan meletakkan instrumennya dengan penuh takzim. Keheningan yang tercipta di ruangan itu terasa jauh lebih khusyuk daripada sebelumnya.
“Seni hanyalah sebuah bejana,” tutur Kyai Arqam dengan suara yang menggetarkan sanubari. “Bila bejana ini kau isi dengan racun kesombongan, ia akan membinasakan. Namun bila kau penuhi dengan kerinduan pada Ilahi, ia menjadi penawar dahaga bagi jiwa-jiwa yang tersesat dan tak tersentuh oleh kata-kata kasar. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Selama tiap nada dan gerak menuntun manusia untuk mengingat-Nya, maka detik itu pula seni telah menjelma menjadi bagian dari tasbih alam semesta.”
Para ulama terdiam, lalu satu per satu menundukkan kepala dalam keharuan. Hari itu, mereka menyadari bahwa pintu menuju Sang Khaliq tidak hanya dibangun dari ketegasan hukum, melainkan juga dihamparkan melalui kelembutan rasa dan petikan nada dawai terindah yang sanggup merengkuh jiwa yang paling keras sekalipun.











