Setiap tahun, miliaran rupiah mengalir ke dalam penyelenggaraan acara seremonial—mulai dari perayaan hari jadi lembaga, pesta rakyat, hingga peluncuran program pemerintah yang megah lengkap dengan kembang api dan panggung raksasa. Di saat yang sama, proposal dana bantuan kemanusiaan, perbaikan sekolah rusak, atau program pemberdayaan ekonomi warga kerap mengantre akibat keterbatasan anggaran.
Secara kalkulasi rasional, pilihan ini tampak absurd. Mengapa sumber daya yang langka dialokasikan untuk kepuasan sesaat yang habis dalam semalam, alih-alih diinvestasikan pada program pemberdayaan yang dampaknya permanen? Pertanyaan ini memunculkan paradoks mendasar tentang bagaimana manusia dan masyarakat menentukan prioritas.
Asumsi di Balik Pilihan Seremonial
Di balik pertanyaan ini, terdapat asumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional yang selalu mengoptimalkan manfaat (utility maximizer). Namun, realitas sosial menunjukkan hal sebaliknya. Acara seremonial tidak sekadar urusan menghamburkan uang, melainkan instrumen sosial yang memfasilitasi kebutuhan mendasar manusia akan koneksi, status, dan validasi kolektif.
Pesta besar menyentuh persoalan psikologis dan sosiologis yang mendalam: kebutuhan akan sense of belonging (rasa memiliki) dan efisiensi sinyal politik (political signaling). Bagi pembuat keputusan, acara seremonial memberikan hasil yang langsung terlihat (immediate visibility), sementara pemberdayaan masyarakat membutuhkan waktu bertahun-tahun tanpa jaminan keberhasilan yang spektakuler secara visual.
Kacamata Ilmiah: Psikologi Massa dan Sinyal Sosial
Untuk memahami fenomena ini, kita dapat melihat dari dua sudut pandang disiplin ilmu: Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics) dan Sosiologi Evolusioner.
-
Hiperbolic Discounting (Diskon Hiperbolik): Dalam ekonomi perilaku, manusia cenderung menilai imbalan instan secara jauh lebih tinggi dibandingkan imbalan masa depan, meskipun imbalan masa depan tersebut jauh lebih besar. Acara seremonial memberikan dopamine spike dan rasa puas seketika bagi penyelenggara maupun peserta, sedangkan pemberdayaan masyarakat adalah investasi jangka panjang yang hasilnya abstrak di masa kini.
-
Costly Signaling Theory (Teori Sinyal Mahal): Dari kacamata antropologi dan ilmu perilaku, acara seremonial berfungsi sebagai sinyal kapasitas. Dengan menggelar pesta besar, sebuah institusi atau pemimpin mengirimkan sinyal kepada publik bahwa mereka “kuat, stabil, dan memiliki sumber daya”. Sebaliknya, alokasi dana secara diam-diam untuk pemberdayaan kerap tidak menghasilkan sinyal kekuatan politik yang cukup kuat bagi massa.
Apa Kata Riset Ilmiah?
Riset dalam ilmu sosial dan ekonomi perilaku mengonfirmasi pola keterikatan manusia pada hal-hal simbolis:
-
Emosi Kolektif dan Efek Ritual: Penelitian oleh Dimitris Xygalatas dikanal Cognitive Science (2013) mengenai ritual kolektif menunjukkan bahwa partisipasi dalam acara seremonial besar meningkatkan kohesi sosial dan pelepasan hormon oksitosin secara signifikan. Ritual mahal (high-cost rituals) terbukti secara psikologis memperkuat ikatan kelompok (ingroup cohesion) dibandingkan interaksi biasa.
-
Paradoks Visibility dalam Kebijakan Publik: Temuan dari ilmuwan politik Martin Gilens dalam bukunya Affluence and Influence (2012) menunjukkan bahwa pembuat kebijakan cenderung memprioritaskan proyek-proyek dengan visibilitas tinggi (high-visibility projects) karena memberikan dorongan elektoral dan persepsi kinerja yang lebih cepat di mata pemilih, dibandingkan program redistribusi ekonomi yang dampaknya lambat terukur.
-
Batas Efektivitas Sinyal: Namun, studi dari Christopher A. Bail et al. (2018) dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengingatkan bahwa pemborosan dana untuk simbolis yang terlalu kontras dengan realitas sosial dapat memicu kecemburuan struktural dan menurunkan tingkat kepercayaan publik (institutional trust) dalam jangka panjang.
Fenomena Ini dalam Kehidupan Nyata
Dalam dunia kerja, kita melihat fenomena ini ketika perusahaan rela menggelar acara town hall atau gathering mewah seharga ratusan juta rupiah, namun enggan menaikkan anggaran pelatihan karyawan atau fasilitas kesehatan mental.
Di tingkat pemerintahan daerah, acara gunting pita dan peresmian monumen kerap mendapatkan alokasi publikasi yang jauh melebihi anggaran pemeliharaan infrastruktur dasar. Dalam kehidupan sosial, individu sering kali memaksakan diri menggelar pesta pernikahan yang megah hingga berutang, demi mendapatkan pengakuan sosial, alih-alih menggunakan dana tersebut sebagai modal awal kehidupan rumah tangga.
Sudut Pandang Kritis: Apakah Seremonial Selalu Buruk?
Apakah ini berarti semua acara seremonial harus dihapuskan demi dana kemanusiaan? Tidak semudah itu.
Menilai acara seremonial sebagai hal yang 100% buang-buang uang adalah pandangan yang terlalu menyederhanakan kompleksitas psikologi manusia. Tanpa ritual dan perayaan seremonial, sebuah masyarakat kehilangan perekat sosial (social glue). Seremonial berfungsi memperkuat identitas, menciptakan kenangan kolektif, dan meredakan ketegangan sosial.
Persoalannya bukan pada keberadaan acara seremonial itu sendiri, melainkan pada proporsi dan intensitasnya. Acara seremonial menjadi inkonsisten secara moral ketika diselenggarakan di tengah krisis kemanusiaan yang akut atau ketika alokasi anggarannya mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat yang paling rentan.
Sintesis dan Refleksi
Kecenderungan masyarakat menyukai acara seremonial adalah cerminan dari evolusi psikologi manusia yang memprioritaskan ikatan emosional instan dan simbol status sosial di atas kalkulasi rasional jangka panjang. Kita adalah makhluk yang digerakkan oleh cerita, ritual, dan perayaan kolektif.
Namun, kedewasaan sebuah peradaban diukur dari kemampuannya melampaui dorongan primitif tersebut. Pembangunan sejati tidak terletak pada seberapa megah panggung perayaan disiapkan, melainkan pada seberapa banyak kehidupan manusia yang berhasil ditopang secara bermakna di balik panggung tersebut.
Insight Utama
Manusia menyukai acara seremonial karena ritual kolektif memberikan kepuasan emosional instan, kohesi sosial, dan sinyal status yang jelas, sementara program pemberdayaan bersifat abstrak dan berjangka panjang. Kemajuan sosial yang sebenarnya menuntut keberanian untuk mengalihkan fokus dari kemewahan simbolis menuju dampak nyata yang berkelanjutan.
Referensi Ilmiah
-
Bail, C. A., et al. (2018). Polorizing effects of social media and public exposure to opposing views. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 115(37), 9216-9221. https://doi.org/10.1073/pnas.1804840115
-
Gilens, M. (2012). Affluence and Influence: Economic Inequality and Political Power in America. Princeton University Press.
-
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux. (Menjelaskan mengenai bias kognitif dan hyperbolic discounting dalam pengambilan keputusan manusia).
-
Xygalatas, D., Mitkidis, P., Fischer, R., et al. (2013). Extreme Rituals Promote Prosociality. Psychological Science, 24(8), 1602-1605. https://doi.org/10.1177/0956797612472988













