Dari masa gladiator di Roma kuno hingga era pembuat konten di layar ponsel pintar hari ini, manusia tidak pernah berhenti mengagumi figur lain. Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan kehidupan selebritas, membela atlet kesayangan hingga berdebat sengit di kolom komentar, atau membeli barang yang dipakai oleh musisi idola.
Sekilas, perilaku ini tampak seperti bentuk apresiasi murni terhadap bakat, karisma, atau pencapaian luar biasa. Namun, di balik antusiasme tersebut terselip sebuah paradoks: mengapa makhluk yang sadar diri seperti manusia kerap menyerahkan sebagian perhatian, emosi, dan identitasnya kepada sosok asing yang bahkan tidak mengenali nama mereka?
Pemujaan terhadap figur publik jarang sekali berakar pada objektivitas. Ketika seseorang mengidolakan figur lain, ia sesungguhnya sedang melakukan tawar-menawar psikologis antara realitas dirinya saat ini dan kemungkinan masa depan yang ia dambakan. Figur yang dipuja bukan semata manusia berdaging dan bertulang, melainkan kanvas kosong tempat pengagumnya memproyeksikan fantasi, nilai, dan kekurangan diri yang belum tuntas.
Arsitektur Psikologis di Balik Ketertarikan
Perilaku mengidolakan bersandar pada kebutuhan mendasar manusia untuk menyusun konsep diri (self-concept). Ketika realitas hidup sehari-hari terasa monoton atau penuh keterbatasan, figur yang ideal hadir sebagai representasi dari apa yang diinginkan oleh ego.
Secara ilmiah, terdapat tiga pilar utama yang menjelaskan fenomena ini:
-
Teori Diskrepansi Diri (Self-Discrepancy Theory): Dirumuskan oleh psikolog Edward Tory Higgins (1987), teori ini menyatakan bahwa manusia terus-menerus membandingkan antara actual self (kondisi diri saat ini) dengan ideal self (harapan, aspirasi, atau versi diri yang ingin dicapai). Tokoh idola kerap berfungsi sebagai manifestasi visual dari ideal self tersebut. Mengagumi mereka menjadi mekanisme mental untuk mendekatkan jarak emosional terhadap hal-hal yang belum mampu kita wujudkan sendiri.
-
Interaksi Parasosial (Parasocial Interaction): Konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl (1956) ini menjelaskan hubungan psikologis satu arah yang terbentuk antara penikmat media dan figur publik. Otak manusia berevolusi dalam kelompok sosial kecil pemburu-peramu yang mengandalkan kontak tatap muka. Saat media modern menampilkan wajah, ekspresi mikro, dan suara seseorang secara repetitif, sistem kognitif primitif kita meresponsnya seolah-olah figur tersebut adalah kawan dekat atau anggota klan.
-
Teori Identitas Sosial (Social Identity Theory): Henri Tajfel dan John Turner (1979) menunjukkan bahwa sebagian rasa keberhargaan diri manusia diperoleh dari keanggotaan dalam kelompok. Menjadi bagian dari sebuah fandom atau basis pendukung menyediakan rasa memiliki (sense of belonging) dan validasi komunal yang instan.
Apa Kata Data dan Eksperimen Empiris?
Upaya untuk mengukur fenomena pemujaan figur publik secara kuantitatif berkembang pesat sejak awal dekade 2000-an. Lynn E. McCutcheon, Rense Lange, dan James Houran (2002) memperkenalkan Celebrity Worship Scale (CWS) melalui penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Psychology. Skala ini membagi pemujaan menjadi tiga tingkatan:
-
Low-level (hiburan sosial): melihat figur sebagai topik obrolan santai,
-
Intermediate-level (intensitas personal): merasa memiliki ikatan empati pribadi yang kuat,
-
High-level (borderline-pathological): muncul delusi bahwa ada hubungan nyata atau kesediaan melakukan tindakan ekstrem demi sang idola.
Dalam penelitian lanjutan oleh McCutcheon dan rekan-rekannya, teridentifikasi model penyerapan-keterikatan (Absorption-Addiction Model). Model ini menunjukkan bahwa individu yang mengalami kesulitan membangun identitas diri yang kokoh atau merasa hampa cenderung menyerap (absorb) identitas figur idola untuk mengisi kekosongan psikologis. Jika tidak dikelola, penyerapan ini berkembang menyerupai adiksi psikologis demi mempertahankan ilusi keterikatan tersebut.
Dari sisi neurosains, studi pencitraan otak (fMRI) yang dipimpin oleh John O’Doherty dan kolega pada area evaluasi nilai sosial mendapati bahwa paparan terhadap figur berstatus tinggi mengaktifkan sistem penghargaan dopaminergik di area ventral striatum. Otak kita memperlakukan pengamatan terhadap kesuksesan orang yang kita anggap satu kelompok sebagai penguatan (reinforcement) positif, seakan-akan kemenangan figur tersebut adalah kemenangan biologis kita sendiri.
Meski demikian, riset meta-analisis oleh David C. Giles (2002) mengingatkan bahwa interaksi parasosial tidak otomatis bersifat patologis. Giles menemukan bahwa bagi mayoritas populasi umum, hubungan parasosial beroperasi sebagai kompensasi adaptif yang sehat untuk memperluas jejaring sosial imajiner, bukan indikator gangguan kejiwaan.
Manifestasi dalam Ruang Digital dan Keseharian
Keterikatan psikologis ini mewujud nyata dalam cara masyarakat modern mengambil keputusan:
-
Fanatisme Algoritmik di Media Sosial: Fitur siaran langsung dan unggahan keseharian mempersempit ilusi jarak. Penggemar merasa telah “menemani dari nol”, sehingga kritik rasional terhadap sang tokoh sering dimaknai secara defensif sebagai serangan personal terhadap diri penggemar itu sendiri.
-
Pengambilan Keputusan Finansial: Konsumen kerap membeli produk bukan karena nilai guna, melainkan demi mengonsumsi asosiasi simbolik yang melekat pada tokoh yang mengiklankannya. Kepemilikan barang tersebut menjadi jembatan simbolik menuju identitas sang tokoh.
-
Polarisasi Politik: Ketika figur politik diperlakukan sebagai idola moral ketimbang pejabat publik yang harus diawasi, pemilih cenderung mengabaikan data kebijakan dan rekam jejak, lalu beralih membela sang figur secara buta demi mempertahankan kohesi kelompoknya.
Sudut Pandang Kritis: Apakah Mengidolakan Selalu Merugikan?
Memandang fenomena pengidolaan semata-mata sebagai delusi atau kelemahan karakter adalah simplifikasi yang keliru.
Secara evolusioner dan edukatif, manusia adalah pembelajar berbasis peniruan (observational learning), sebagaimana ditegaskan dalam teori kognitif sosial Albert Bandura. Menjadikan seseorang sebagai model peran (role model) dapat memicu motivasi berprestasi, membangkitkan ketahanan mental di masa sulit, dan mempercepat internalisasi nilai-nilai kebajikan. Seseorang yang mengagumi etos kerja ilmuwan atau dedikasi atlet sering kali terdorong untuk memperbaiki disiplin hidupnya sendiri.
Garis pemisahnya terletak pada lokasi kendali diri (locus of control):
-
Menginspirasi: Tokoh berfungsi sebagai kompas arah; fokus individu tetap tertuju pada tindakan konkret perbaikan diri sendiri.
-
Menghilangkan Diri: Tokoh dijadikan substitusi identitas; individu hidup secara vikarius (vicarious living) melalui pencapaian orang lain seraya menelantarkan tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Sintesis
Mengidolakan orang lain pada hakikatnya adalah pencarian identitas yang dialihdayakan (outsourced identity). Figur yang kita kagumi adalah kompilasi dari kualitas-kualitas yang ingin kita miliki, ketakutan yang ingin kita atasi, dan ruang kosong dalam diri kita yang menuntut untuk diisi.
Ketika kita menyadari mekanisme ini, daya magis figur idola akan mereda menjadi sekadar cermin pemantul. Nilai sejati dari seorang idola tidak pernah terletak pada kesempurnaan sosok yang berada di atas panggung, melainkan pada kemampuan kita untuk mengenali potensi apa dalam diri kita yang selama ini sedang diproyeksikan ke arah panggung tersebut.
Insight Utama
Mengidolakan orang lain bukanlah bukti kehebatan mutlak sang figur, melainkan cerminan dari aspirasi, nilai, dan kekosongan diri yang kita proyeksikan kepadanya. Figur pujaan adalah simbol perantara yang menandai jarak antara siapa kita hari ini dan versi diri yang sedang berusaha kita wujudkan.
Referensi Ilmiah
-
Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Prentice-Hall.
-
Giles, D. C. (2002). Parasocial Interaction: A Review of the Literature and a Model for Future Research. Media Psychology, 4(3), 279–305. https://doi.org/10.1207/S1532785XMEP0403_04
-
Higgins, E. T. (1987). Self-Discrepancy: A Theory Relating Self and Affect. Psychological Review, 94(3), 319–340. https://doi.org/10.1037/0033-295X.94.3.319
-
Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance. Psychiatry, 19(3), 215–229. https://doi.org/10.1080/00332747.1956.11023049
-
McCutcheon, L. E., Lange, R., & Houran, J. (2002). Conceptualization and Measurement of Celebrity Worship. British Journal of Psychology, 93(1), 67–87. https://doi.org/10.1348/000712602162454
-
Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An Integrative Theory of Intergroup Conflict. Dalam W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The Social Psychology of Intergroup Relations (hlm. 33–47). Brooks/Cole.



















