“Ketahuilah bahwa seorang pencari ilmu hendaknya memulai dengan mempelajari adab sebelum memulai menuntut ilmu. Sebab di dalam dirinya bisa saja terdapat penyakit hati seperti kesombongan, hasad (dengki), cinta kedudukan, dan berbagai penyakit batin lainnya. Penyakit-penyakit itu harus dibersihkan dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik. Karena ilmu tidak akan menetap dalam hati yang dipenuhi oleh berbagai kerusakan. Hati yang dihiasi dengan kebaikan akan lebih mudah menerima dan menjaga ilmu.”
Kemudian penulis mengutip firman Allah:
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah.”
(QS. Ali Imran: 164)
Ayat ini menunjukkan bahwa penyucian jiwa (tazkiyah) didahulukan sebelum pengajaran ilmu.
Lalu disebutkan pula firman Allah:
“Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan kepadamu.”
(QS. Al-Baqarah: 282)
Maksudnya, takwa dan adab merupakan fondasi datangnya ilmu. Hati yang baik menjadi syarat agar cahaya ilmu dapat masuk dan menetap.
Selanjutnya dijelaskan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan pendidikan adab sebelum memperdalam ilmu. Mereka meyakini bahwa memperbaiki jiwa dan perilaku adalah dasar keberhasilan dalam menuntut ilmu. Orang yang kehilangan adab bisa saja memperoleh banyak ilmu, tetapi kehilangan keberkahan ilmunya.
Mereka mendidik murid-murid agar memiliki:
- Akhlak yang baik.
- Sikap tawadhu’ (rendah hati).
- Menjaga lisan.
- Adab terhadap guru.
- Keikhlasan.
Karena mereka yakin bahwa ilmu hanya akan bermanfaat apabila disertai adab dan rasa takut kepada Allah.
Di bagian bawah terdapat perkataan Imam Malik رحمه الله:
“Pamanku dahulu mempersiapkanku ketika masih kecil sebelum aku pergi mencari ilmu. Ia berkata kepadaku: ‘Wahai Malik, ambillah adab sebelum mengambil ilmu.’”
Inti pesan tulisan ini:
Ilmu memang penting, tetapi adab adalah pondasinya. Orang yang berilmu tanpa adab bisa menyalahgunakan ilmunya, sedangkan orang yang beradab akan lebih mudah memperoleh manfaat dan keberkahan dari ilmu yang dipelajarinya. Karena itu, dalam tradisi para ulama, pembentukan akhlak dan penyucian hati didahulukan sebelum memperdalam berbagai disiplin ilmu.
*Penulis adalah Pengasuh PP. Pesantren Islamiyah Syafi’iyah Sumberanyar Paiton dan Ketua Aswaja Center PCNU Kraksaan













