Di tengah lanskap digital yang kian bising, manusia hari ini seperti dihadapkan pada panggung eksposisi tanpa henti. Setiap usapan jempol di layar kaca menyuguhkan gambaran ideal tentang cara hidup, barang yang harus dimiliki, hingga tolok ukur kesuksesan yang seragam. Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah kehausan tanpa henti ini murni merupakan cacat moral generasi modern, ataukah sebuah konsekuensi biologis dan sosiologis dari lingkungan yang dirancang untuk terus memicu hasrat manusia? Lebih jauh lagi, mengapa “konsep ketercukupan” begitu asing dan sulit dipelajari di era modern?
Perangkap Adaptasi Hedonis dan Perbandingan Sosial
Keinginan yang seolah tidak pernah memuaskan dapat dijelaskan melalui konsep hedonic treadmill atau adaptasi hedonis, sebuah teori psikologi klasik yang dikembangkan oleh Brickman dan Campbell (1971). Manusia memiliki kecenderungan biologis untuk secara cepat kembali pada tingkat kebahagiaan netral setelah mengalami peristiwa positif maupun negatif. Ketika seseorang mendapatkan barang baru atau mencapai standar hidup tertentu, lonjakan kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat sementara. Sistem pemrosesan imbalan dalam otak—yang sangat bergantung pada transmisi dopamin—sebenarnya dirancang untuk memotivasi pencarian, bukan untuk mempertahankan kepuasan yang statis.
Ketika fenomena biologis ini bertemu dengan media sosial, efeknya berlipat ganda. Festinger (1954) melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia mengvaluasi diri mereka dengan membandingkan kemampuan dan kondisi mereka dengan orang lain. Sebelum era digital, pembanding utama adalah tetangga, rekan kerja, atau kerabat dekat—sebuah kelompok referensi yang relatif terbatas dan realistis. Namun, media sosial menghapus batasan geografi dan realitas tersebut.
Vogel et al. (2014) dalam penelitian mereka menemukan bahwa paparan terhadap perbandingan sosial ke atas (upward social comparison) di media sosial secara konsisten menurunkan harga diri dan kesejahteraan psikologis. Media sosial menyajikan kurasi momen terbaik seseorang, bukan realitas mentah. Ketika standar kesejahteraan didefinisikan oleh tampilan terkurasi tersebut, masyarakat—terutama anak muda—merasa terus menerus berada dalam posisi tertinggal. Ketakutan akan tertinggal ini melahirkan mekanisme kompensasi berupa keinginan untuk terus mengonsumsi dan memiliki.
Mekanisme Neurobiologis dan Fenomena Choicelessness
Dari sudut pandang neuroscience, ketidakmampuan untuk merasa cukup tidak selalu berarti kurangnya rasa syukur secara individu. Berridge dan Kringelbach (2015) dalam kajian mereka mengenai mekanisme imbalan di otak membedakan antara sirkuit wanting (hasrat untuk mendapatkan) dan liking (kenikmatan saat menikmati). Media sosial dirancang melalui mekanisme imbalan intermiten—seperti jumlah likes, notifikasi, dan algoritma konten—yang secara agresif memicu sirkuit wanting tanpa memberikan pemenuhan pada sirkuit liking. Akibatnya, individu terjebak dalam siklus menginginkan sesuatu secara terus-menerus tanpa pernah benar-benar merasakan kepuasan yang bertahan lama.
Namun, mengambinghitamkan media sosial secara mutlak sebagai satu-satunya penyebab hilangnya konsep ketercukupan adalah sebuah penyederhanaan yang keliru. Jika ditinjau dari perspektif sosiologi dan ekonomi politik, keinginan yang tak berujung adalah bahan bakar utama dari sistem kapitalisme konsumen. Schor (1998) dalam analisisnya mengenai budaya konsumerisme menunjukkan bahwa struktur ekonomi modern secara aktif mendesain ketidakpuasan. Melalui strategi pemasaran yang terencana, produk-produk baru terus diciptakan bukan untuk memenuhi kebutuhan dasar, melainkan untuk menciptakan kebutuhan baru dan meredefinisi status sosial.
Dalam lingkungan yang demikian, pendidikan formal maupun informal memang jarang mengajarkan konsep ketercukupan (sufficiency). Kurikulum pendidikan modern umumnya berorientasi pada pencapaian, produktivitas, dan akumulasi performa. Konsep “cukup” sering kali disalahartikan sebagai kemalasan, ketidakberdayaan, atau hilangnya ambisi. Ketakutan akan stagnasi ekonomi dan ketidakpastian masa depan membuat gagasan untuk memperlambat tempo kehidupan terasa seperti sebuah kemewahan yang berisiko.
Sisi Lain Ambisi dan Nuansa Ketercukupan
Meskipun kritikan terhadap budaya konsumerisme dan media sosial sangat kuat, penting untuk melihat fenomena ini secara seimbang. Keinginan yang tak berujung tidak sepenuhnya bernilai negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, dorongan untuk menginginkan lebih—lebih banyak pengetahuan, kesehatan yang lebih baik, efisiensi yang lebih tinggi—merupakan penggerak utama inovasi dan kemajuan sosial.
Nusbaum dan Sen (1993) melalui Capability Approach mengingatkan bahwa aspirasi untuk meningkatkan standar hidup adalah hak mendasar setiap manusia, terutama bagi mereka yang hidup di bawah garis kesejahteraan yang layak. Bagi kelompok masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya, keinginan untuk meraih standar hidup yang diceritakan di media sosial bisa menjadi motivasi mobilitas sosial yang rasional dan valid.
Oleh karena itu, batasan dari quote di atas terletak pada artikulasi “ketercukupan” itu sendiri. Ketercukupan tidak boleh dipahami secara kaku sebagai penolakan terhadap seluruh bentuk kemajuan atau keinginan. Penelitian mengenai psychological well-being oleh Ryff (1989) menunjukkan bahwa pertumbuhan pribadi (personal growth) dan penguasaan lingkungan (environmental mastery) adalah komponen kunci dari kesejahteraan mental. Yang menjadi persoalan mendasar bukanlah adanya keinginan untuk berkembang, melainkan ketika sumber evaluasi diri dipindahkan sepenuhnya ke luar diri (external locus of control)—yang dalam hal ini dikontrol oleh algoritma media sosial dan ekosistem konsumerisme.
Reintegrasi Konsep Ketercukupan
Sintesis dari perdebatan ini mengarah pada perlunya mendefinisikan ulang konsep ketercukupan di era modern. Ketercukupan bukanlah kondisi statis di mana seseorang berhenti bercita-cita, melainkan sebuah kemampuan regulasi diri untuk mengenali batas kepuasan internal. Kasser (2002) dalam penelitiannya mengenai nilai-nilai materialistis menemukan bahwa individu yang mengorientasikan hidupnya pada nilai-nilai intrinsik—seperti hubungan antarmanusia, pertumbuhan diri, dan kontribusi komunitas—memiliki tingkat kesejahteraan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengejar nilai-nilai ekstrinsik seperti kekayaan, popularitas, dan citra diri.
Mengajari konsep ketercukupan kepada generasi muda bukan berarti mengekang ambisi mereka, melainkan membekali mereka dengan literasi kritis terhadap media dan pemahaman tentang arsitektur psikologis mereka sendiri. Pendidikan ketercukupan melibatkan pembelajaran tentang cara memisahkan kebutuhan nyata dari hasrat terdistorsi yang diciptakan oleh perbandingan sosial digital. Ini adalah proses mengembalikan tolok ukur kebahagiaan dari layar gawai ke dalam pengalaman hidup yang otentik.
Refleksi
Kembali pada pernyataan awal, quote tersebut dengan sangat jernih menunjukkan luka tak kasat mata dari masyarakat modern: keterasingan dari rasa cukup. Pemahaman ilmiah membuktikan bahwa kita memang hidup dalam lingkungan eksternal dan sistem biologis internal yang memfasilitasi pencarian tanpa henti. Media sosial tidak menciptakan ketidakpuasan manusia dari ruang hampa, tetapi memperbesar kecenderungan alamiah kita untuk membandingkan diri dan menginginkan lebih.
Melihat quote tersebut melalui kacamata ilmiah membantu kita mengubah cara pandang dari sekadar menyalahkan individu atau generasi muda menjadi memahami struktur yang mempengaruhinya. Ketercukupan bukanlah sebuah kondisi pasrah yang diperoleh secara alami, melainkan sebuah ketrampilan mental yang harus dilatih dan diintegrasikan secara sadar dalam pendidikan budaya kita. Pada akhirnya, sebuah pertanyaan penting tersisa untuk kita renungkan bersama: di tengah dunia yang terus menerus mendesak kita untuk menjadi lebih, memiliki lebih, dan menampilkan lebih, mampukah kita mendefinisikan arti “cukup” bagi diri kita sendiri sebelum sistem di luar sana yang mendefinisikannya untuk kita?
Referensi Ilmiah
- Berridge, K. C., & Kringelbach, M. L. (2015). Pleasure systems in the brain. Neuron, 86(3), 646–664. https://doi.org/10.1016/j.neuron.2015.02.018
- Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic relativism and planning the good society. Dalam M. H. Appley (Ed.), Adaptation-level theory (hlm. 287–302). Academic Press.
- Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
- Kasser, T. (2002). The high price of materialism. MIT Press. https://doi.org/10.7551/mitpress/3501.001.0001
- Nussbaum, M., & Sen, A. (Eds.). (1993). The quality of life. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/0198287976.001.0001
- Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1069
- Schor, J. B. (1998). The overspent American: Upscaling, downshifting, and the new consumer. Basic Books.
- Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social networking sites and social comparison: The mediating role of social comparison orientation and second-order social comparison in the relationship between Facebook use and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222. https://doi.org/10.1037/ppm0000047













