Tradisi “berkatan” atau pemberian berkat dalam berbagai hajatan di masyarakat Indonesia pada dasarnya lahir dari nilai luhur: berbagi rezeki, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan solidaritas sosial. Namun dalam praktiknya, tradisi ini perlahan mengalami pergeseran makna. Berkat tidak lagi sekadar simbol kebersamaan, melainkan juga menjadi medium untuk menampilkan status sosial dan prestise di tengah masyarakat.
Fenomena ini dapat dibaca melalui kacamata sosiologi sebagai bagian dari stratifikasi sosial—yaitu pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat ekonomi, status, dan kekuasaan. Dalam konteks berkatan, isi berkat sering kali menjadi indikator tidak resmi untuk menilai posisi sosial seseorang. Semakin mewah dan berlimpah isi berkat yang diberikan, semakin tinggi pula persepsi masyarakat terhadap status tuan rumah.
Di banyak tempat, berkat yang sederhana seperti nasi bungkus atau jajanan tradisional mulai tergeser oleh paket yang lebih “modern”: nasi kotak premium, kue bermerk, hingga barang tambahan seperti perlengkapan rumah tangga atau bahkan elektronik. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan selera, tetapi mencerminkan adanya kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan ekonomi. Berkat menjadi simbol representasi diri—cara halus untuk mengatakan, “kami mampu”.
Dalam perspektif teori sosial, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep “conspicuous consumption” yang diperkenalkan oleh Thorstein Veblen. Veblen menjelaskan bahwa konsumsi tidak selalu didorong oleh kebutuhan, tetapi oleh keinginan untuk menunjukkan status sosial kepada orang lain. Dalam konteks berkatan, isi berkat yang mewah menjadi bentuk konsumsi simbolik yang bertujuan membangun citra sosial.
Lebih jauh, Pierre Bourdieu melalui konsep “capital sosial dan simbolik” juga membantu menjelaskan fenomena ini. Berkat bukan hanya barang, tetapi juga simbol yang membawa makna sosial. Ketika seseorang memberikan berkat yang dianggap “berkelas”, ia sedang membangun modal simbolik—yakni pengakuan, kehormatan, dan prestise di mata masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi sosialnya dalam struktur komunitas.
Namun di balik itu, terdapat konsekuensi sosial yang tidak sederhana. Fenomena ini menciptakan tekanan tersendiri, terutama bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah. Banyak orang merasa “harus” memberikan berkat yang layak secara sosial, meskipun kondisi finansial tidak mendukung. Tekanan untuk “tidak malu” atau “tidak kalah” sering kali mendorong seseorang mengeluarkan biaya di luar kemampuan. Dalam kondisi ini, tradisi yang seharusnya menjadi sarana kebersamaan justru berubah menjadi beban sosial.
Selain itu, masyarakat secara tidak sadar ikut mereproduksi standar tersebut. Penilaian terhadap isi berkat—baik secara langsung maupun melalui bisik-bisik sosial—memperkuat anggapan bahwa kualitas berkat mencerminkan kualitas ekonomi seseorang. Inilah yang membuat tradisi berkatan tidak lagi netral, tetapi menjadi arena simbolik untuk mempertontonkan kelas sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya tidak pernah statis. Ia selalu berinteraksi dengan dinamika ekonomi dan sosial masyarakat. Tradisi berkatan, yang awalnya sederhana dan egaliter, kini berada dalam tarik-menarik antara nilai berbagi dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah tradisi berkatan harus dihilangkan, tetapi bagaimana ia dapat dikembalikan pada esensinya. Jika berkat kembali dimaknai sebagai bentuk keikhlasan berbagi, bukan sebagai alat kompetisi sosial, maka ia akan tetap relevan dan bermakna. Namun jika terus dibiarkan menjadi ajang prestise, maka tradisi ini berisiko kehilangan ruhnya—berubah dari simbol kebersamaan menjadi simbol perbandingan.
Referensi
Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Harvard University Press.
Veblen, T. (1899). The Theory of the Leisure Class. Macmillan.
Weber, M. (1978). Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of California Press.
Durkheim, E. (1912). The Elementary Forms of Religious Life. Free Press.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.
Scott, J. C. (1976). The Moral Economy of the Peasant. Yale University Press.















