Di era digital yang serba cepat, aktivitas sederhana seperti menggulir layar ponsel kini bukan lagi sekadar kebiasaan biasa. Ia telah berkembang menjadi fenomena yang lebih kompleks, bahkan berpotensi menjadi masalah kesehatan publik. Fenomena ini dikenal sebagai dopamine-scrolling—perilaku menggulir media sosial secara terus-menerus untuk mencari konten yang menghibur dan memberi sensasi menyenangkan.
Berbeda dengan doom-scrolling yang berfokus pada konsumsi berita negatif, atau kecanduan internet yang telah lama dikaji secara klinis, dopamine-scrolling hadir dalam bentuk yang lebih halus. Ia tidak selalu tampak sebagai gangguan, tetapi bekerja melalui mekanisme penghargaan dalam otak. Setiap kali pengguna menemukan konten menarik, otak melepaskan sedikit dopamin—zat kimia yang berperan dalam rasa senang dan kepuasan. Pola ini menciptakan dorongan untuk terus menggulir, berharap menemukan “kejutan berikutnya” yang menyenangkan.
Fenomena ini semakin menguat seiring perkembangan platform media sosial yang didesain dengan sangat canggih. Fitur seperti infinite scrolling, auto-play, rekomendasi algoritmik, dan video pendek dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari satu miliar orang menghabiskan rata-rata tiga jam sehari untuk berselancar di media sosial, dengan beberapa negara mencatat angka lebih dari empat jam per hari.
Di kalangan remaja, dampaknya terasa lebih signifikan. Banyak dari mereka mengaku hampir selalu terhubung secara online. Akibatnya, perhatian menjadi semakin terfragmentasi, interaksi sosial menurun kualitasnya, dan risiko gangguan mental seperti kecemasan serta depresi meningkat. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi juga berkontribusi terhadap menurunnya kemampuan fokus dan meningkatnya distraksi kognitif.
Secara neurobiologis, dopamine-scrolling bekerja melalui pola penguatan variabel—mekanisme yang sama yang membuat perilaku tertentu menjadi sulit dihentikan. Karena pengguna tidak tahu kapan akan menemukan konten yang menarik, mereka terus menggulir layar, menciptakan siklus kebiasaan yang berulang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan toleransi, di mana seseorang membutuhkan lebih banyak waktu online untuk mendapatkan kepuasan yang sama.
Melihat dampaknya yang semakin luas, para peneliti mulai mendorong berbagai solusi. Salah satunya adalah pendekatan ethical nudging, yaitu desain teknologi yang mendorong pengguna untuk lebih sadar dalam menggunakan media sosial. Intervensi sederhana seperti pembatasan news feed, penggunaan aplikasi pengontrol waktu, hingga pengaturan ulang algoritma terbukti dapat membantu mengurangi perilaku scrolling kompulsif.
Selain itu, lembaga pendidikan juga memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi digital. Pemahaman tentang bagaimana media sosial bekerja—baik dari sisi psikologi maupun teknologi—dapat membantu generasi muda membangun batasan yang sehat dalam penggunaan perangkat digital. Di tingkat kebijakan, beberapa wilayah seperti Uni Eropa bahkan mulai merancang regulasi untuk mengatasi kecanduan digital, khususnya pada kelompok usia muda yang lebih rentan.
Pada akhirnya, dopamine-scrolling mengingatkan kita bahwa tantangan di era digital bukan lagi sekadar akses informasi, tetapi bagaimana manusia mengelola perilakunya terhadap teknologi. Dunia digital memang menawarkan hiburan tanpa batas, tetapi tanpa kesadaran dan kontrol, ia juga berpotensi menggerus kualitas hidup secara perlahan.
Menjadi pengguna yang bijak berarti mampu berhenti sejenak, menyadari pola kebiasaan, dan mengambil kembali kendali atas perhatian kita. Karena di balik setiap guliran layar, ada waktu, energi, dan kesehatan mental yang dipertaruhkan.
Referensi
Anderson, I. A., & Wood, W. (2020). Habits and the electronic herd: the psychology behind social media’s successes and failures. Consumer Psychology Review, 4, 83–99.
Purohit, A. K., & Holzer, A. (2021). Unhooked by design: scrolling mindfully on social media by automating digital nudges. AMCIS.
GlobalWebIndex. (2019). Flagship Report. London: GlobalWebIndex.
Weinstein, A., Feder, L. C., Rosenberg, K. P., et al. (2014). Internet addiction disorder: overview and controversies. Academic Press.
Rajeshwari, S., & Meenakshi, S. (2023). The age of doom scrolling – social media’s attractive addiction. Journal of Education and Health Promotion, 12(21).
Vogels, E. A., Gelles-Watnick, R., & Massarat, N. (2022). Teens, social media and technology 2022. Pew Research Center.
Boer, M., Stevens, G. W. J. M., Finkenauer, C., et al. (2021). Social media use intensity and mental health among adolescents. Computers in Human Behavior, 116.
Roffarello, A. M., & De Russis, L. (2022). Dark patterns that steal our attention. CHI Conference Proceedings.
Rixen, J. O., Meinhardt, L. M., Glöckler, M., et al. (2023). Infinite scrolling behaviour in social media. Proceedings of ACM.
Wood, W., & Rünger, D. (2016). Psychology of habit. Annual Review of Psychology, 67.
Purohit, A. K., et al. (2023). Social media detox and newsfeed diets. CHI Conference Proceedings.
Adams, A. T., Costa, J., Jung, M. F., et al. (2015). Mindless computing. ACM Conference.
European Parliament. (2023). New EU rules needed to address digital addiction.
Montag, C., Lachmann, B., Herrlich, M., et al. (2019). Addictive features of social media. International Journal of Environmental Research and Public Health.













