Di satu sisi, buku kerap dirayakan sebagai simbol kebudayaan, barang koleksi yang estetis, hingga penanda status intelektual. Di sisi lain, tindakan membaca—sebuah proses pencernaan makna secara aktif—sering kali dihindari atau terasa menguras energi. Dari paradoks sederhana ini, muncul pertanyaan mendasar: Mengapa manusia bisa menyukai sebuah benda kultural bernama buku, tetapi pada saat yang sama enggan atau kesulitan menjalani proses mental yang dituntut oleh benda tersebut?
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat buku tidak sekadar sebagai tumpukan kertas, melainkan sebagai objek sosial dan estetis. Dari sudut pandang sosiologi, Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep modal simbolis (symbolic capital) dan modal budaya (cultural capital). Dalam teorinya mengenai pembedaan kelas sosial, Bourdieu menjelaskan bahwa memiliki objek-objek kultural tertentu—termasuk buku—berfungsi sebagai penanda selera dan posisi sosial seseorang di masyarakat. Buku memiliki nilai estetis yang menyenangkan penglihatan, memberikan kepuasan sensori saat diraba atau ditata di rak, serta memberikan kepuasan psikologis berupa citra diri sebagai pribadi yang terpelajar. Seseorang bisa dengan mudah menyukai buku karena objek ini memberikan imbalan psikologis dan sosial secara instan tanpa memerlukan beban kerja mental yang besar.
Sebaliknya, tindakan membaca menuntut mekanisme yang jauh berbeda dari sekadar memiliki atau mengagumi sebuah buku. Dari perspektif neurosains dan psikologi kognitif, membaca bukanlah kemampuan biologis alami manusia seperti halnya berbicara atau melihat. Maryanne Wolf, seorang peneliti neurosains kognitif, menegaskan bahwa otak manusia tidak pernah dirancang secara genetis untuk membaca. Membaca adalah sebuah pencapaian evolusi budaya yang memaksa otak untuk melakukan rekonfigurasi atau neuronal recycling, yaitu menghubungkan sirkuit visual, bahasa, dan pemrosesan eksekutif yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri.
Ketika seseorang membaca tulisan yang rumit, otak bekerja keras dalam mengatur atensi, memproses sintaksis, serta mengaktifkan memori kerja (working memory). John Sweller, melalui Cognitive Load Theory, menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia sangat terbatas. Membaca teks yang padat membutuhkan alokasi sumber daya kognitif yang besar untuk mengolah informasi visual menjadi makna. Ketika beban kognitif ini melebihi kapasitas pemrosesan individu, pengalaman membaca berubah dari sebuah aktivitas yang menyenangkan menjadi sesuatu yang meletihkan secara mental. Inilah yang menjelaskan mengapa kecintaan pada buku sebagai objek material sering kali tidak berbanding lurus dengan ketahanan seseorang untuk berlama-lama membaca compensates keberadaan tulisan di dalamnya.
Fenomena ini terlihat nyata dalam dinamika kehidupan masyarakat modern. Tren memajang buku di media sosial, populernya istilah tsundoku—perilaku membeli buku tanpa pernah membacanya—hingga keberadaan sudut baca estetis di berbagai kafe menunjukkan betapa kuatnya daya tarik visual dan simbolis buku. Banyak orang merasa bahagia berada di sekitar buku, mengalami sensasi tenang di perpustakaan, atau tergiur membeli buku baru dalam pameran. Namun, ketika tiba saatnya untuk duduk diam, mengisolasi diri dari gangguan luar, dan mencerna baris demi baris kata selama berjam-jam, daya tahan tersebut luluh oleh disrupsi perhatian dan kelelahan kognitif.
Kendati demikian, menganggap bahwa fenomena ini murni disebabkan oleh “kemalasan” atau kecenderungan dangkal manusia juga merupakan perampingan masalah yang tidak seimbang. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa dorongan untuk tidak membaca tidak selalu berakar pada ketidakmampuan kognitif, melainkan juga dipengaruhi oleh perubahan lingkungan informasi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anne Mangen dan rakan-rakannya mengenai perbandingan membaca teks tercetak dan layar digital, ditemukan bahwa media dan konteks fisik memegang peranan kunci dalam mengarahkan fokus. Lingkungan digital modern melatih otak manusia untuk memindai informasi dengan cepat (skimming), yang secara perlahan mengikis kemampuan untuk melakukan pemrosesan mendalam (deep reading). Dengan demikian, ketikadapatsenangan pada buku tidak diimbangi dengan kesenangan membaca, hal tersebut juga mencerminkan resistensi neurobiologis terhadap perubahan pola atensi di era serbacepat.
Namun, di sisi lain, gagasan bahwa “semua orang senang dengan buku” itu sendiri perlu dikritis secara proporsional. Apakah setiap orang benar-benar menyukai buku sebagai objek? Perspektif sosiologi kritis menunjukkan bahwa bagi sebagian kelompok masyarakat yang memiliki trauma pendidikan atau keterbatasan literasi finansial dan kultural, buku tidak selalu dipersepsikan secara positif. Buku bisa saja dipandang sebagai lambang eksklusivitas, ancaman kognitif, atau beban finansial. Selain itu, definisi “membaca” pun kini telah mengalami perluasan paradigma. Kehadiran audiobook, buku interaktif, dan format digital menantang batas-batas konvensional tentang apa yang disebut sebagai tindakan membaca. Seseorang mungkin tidak menikmati proses membaca teks linear pada kertas, tetapi sangat menikmati penyerapan narasi melalui audio—sebuah bentuk pencernaan gagasan yang secara kognitif tetap kaya meski tidak melibatkan media tulisan secara visual.
Pada akhirnya, sintesis dari berbagai temuan ini memperjelas bahwa keberadaan buku dan tindakan membaca berada pada dua ranah pemenuhan manusia yang berbeda. Menyukai buku adalah bentuk apresiasi terhadap simbol, estetika, dan potensi pengetahuan yang dikandungnya. Sedangkan menyukai kegiatan membaca adalah komitmen untuk melatih disiplin kognitif, mengolah atensi, dan menanggalkan kenyamanan demi pemrosesan ide yang mendalam. Buku adalah sarana yang pasif, sementara membaca adalah kerja mental yang aktif.
Melalui kacamata ilmiah ini, pernyataan bahwa “semua orang senang dengan buku, tapi tidak semua orang senang membaca” tidak lagi terasa sebagai sekadar keluhan atas rendahnya minat baca, melainkan sebuah refleksi atas sifat alami manusia. Manusia secara intuitif menyukai keindahan, simbol, dan janji pengetahuan yang diwakili oleh sebuah buku. Namun, untuk benar-benar melangkah masuk ke dalam lembaran-lembarannya, manusia harus bertarung dengan keterbatasan kapasitas kognitif dan disrupsi zaman. Memahami jarak antara mengagumi buku dan menikmati proses membaca mendorong kita untuk tidak sekadar memuja keberadaan buku sebagai pajangan budaya, tetapi juga secara sadar melatih kembali kedalaman berpikir kita di tengah dunia yang makin terfragmentasi.
Referensi Ilmiah
- Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Harvard University Press.
- Mangen, A., Walgermo, B. R., & Brønnick, K. (2013). Reading linear texts on paper versus computer screens: Effects on reading comprehension. International Journal of Educational Research, 58, 61–68. https://doi.org/10.1016/j.ijer.2012.12.002
- Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285. https://doi.org/10.1207/s15516709cog1202_4
- Wolf, M. (2007). Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain. Harper Perennial.
















