Mengembalikan Kesakralan Ilmu di Balik Ijazah dan Gelar

Hipnara

banner 468x60

Sebuah bahaya laten selalu mengintai setiap pranata sosial manusia: kecenderungan untuk menyembah penanda dan melupakan apa yang ditandai. Analoginya melintasi zaman dengan sangat presisi. Ketika masyarakat Makkah pra-Islam merindukan Baitullah, mereka membawa sepotong batu sebagai penawar rindu. Namun, ingatan manusia rapuh dan fana; seiring berjalannya generasi, batu yang tadinya sekadar sarana perantara justru mengambil alih esensi, bertransformasi menjadi berhala yang dipuja, sementara hakikat ketuhanan yang sublim perlahan menguap.

Pertanyaan besar yang kini mengetuk pintu institusi akademis kita adalah: apakah dunia pendidikan sedang mengalami berhalaisme serupa? Ketika gelar, kredensial formal, indeks sitasi, dan lembaran ijazah dikejar habis-habisan, sementara dahaga akan kebajikan dan keilmuan yang sejati mendadak tandas, kita patut curiga bahwa pranata belajar modern telah mengalami pergeseran fungsi secara mendasar. Pendidikan tampaknya tak lagi berfokus pada proses pembentukan jiwa manusia yang dahaga akan kebenaran, melainkan pada akumulasi simbol-simbol akademis yang mekanis.

banner 336x280

Secara filsafat bahasa dan sosiologi, fenomena deviasi makna ini menemukan fundamen teoritisnya pada konsep simulacra yang digagas oleh Jean Baudrillard. Dalam karyanya Simulacra and Simulation, Baudrillard menjelaskan bagaimana simbol-simbol dalam masyarakat modern dapat secara bertahap kehilangan keterhubungannya dengan realitas objektif yang diwakilinya. Pada fase awal, simbol melambangkan sebuah kebenaran subtansial—gelar profesor menandakan kedalaman ilmu, dan ijazah menandakan penguasaan kompetensi. Namun, dalam fase simulasi lanjut, simbol tersebut lepas dari realitas aslinya; ia berdiri sendiri, diperjualbelikan, dan disembah sebagai realitas baru.

Dunia pendidikan modern kerap terjebak dalam jebakan simulacra ini, di mana kepemilikan kredensial dianggap lebih penting daripada substansi keahlian itu sendiri. Bergelar alim atau berijazah tinggi tidak lagi otomatis mencerminkan kedalaman pemikiran, melainkan sekadar status sosial yang berhasil diamankan.

Lantas, mekanisme psikologis dan sosiologis apa yang mendorong dorongan kolektif manusia untuk memburu simbol ketimbang substansi? Ilmu perilaku memberikan jawaban yang sangat gamblang melalui Hukum Goodhart (Goodhart’s Law), sebuah konsep yang awalnya lahir dari ilmu ekonomi namun diadopsi secara luas dalam sosiologi organisasi dan psikologi keputusan. Marilyn Strathern memformulasikan prinsip ini dengan sangat elegan: ketika sebuah kualifikasi atau ukuran berubah menjadi sasaran utama, maka ukuran tersebut seketika berhenti menjadi ukuran yang baik.

Dalam konteks persekolahan dan perguruan tinggi, ketika angka indeks prestasi, jumlah publikasi, dan selembar ijazah dijadikan muara akhir dari seluruh perjuangan belajar, seluruh sistem sosial akan secara otomatis beradaptasi untuk meretas indikator tersebut. Mahasiswa tak lagi terdorong oleh rasa ingin tahu intrinsik, melainkan bertindak pragmatis untuk mengamankan nilai dan kelulusan formal semata.

Fenomena pergeseran orientasi ini diteliti secara mendalam oleh ekonom George Akerlof dalam teorinya mengenai Signalling Theory di pasar tenaga kerja. Akerlof dan pendukung teorinya menunjukkan bahwa ijazah sering kali berfungsi bukan sebagai bukti bahwa seseorang telah mengalami transformasi keilmuan yang substantif, melainkan sekadar sinyal efisien bagi pasar untuk menyaring kandidat berdasarkan kepatuhan dan ketahanan mereka menempuh jalur formal.

Ketika masyarakat hanya menghargai sinyal ketimbang substansi keahlian, motivasi intrinsik manusia untuk mengejar kebenaran menjadi tergerus secara masif. Penelitian neurosains dan psikologi kognitif oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan mengenai Self-Determination Theory memperkuat fakta ini. Eksperimen mereka membuktikan bahwa ketika sistem ganjaran ekstrinsik—seperti gelar, pujian sosial, atau selembar kertas sertifikasi—menjadi variabel utama yang menonjol, otak manusia secara bertahan akan menurunkan motivasi intrinsik untuk belajar. Rasa ingin tahu ilmiah yang mendalam digantikan oleh kalkulasi neurobiologis yang berorientasi pada ganjaran instan dan minimalisasi usaha.

Dampak dari fenomena ini terlihat gamblang dalam dinamika kehidupan sehari-hari. Kita menyaksikan maraknya praktik plagiarisme, perjokian karya ilmiah, hingga jual-beli gelar kehormatan yang melibatkan elite akademis maupun pimpinan agama. Di ranah pendidikan tinggi, interaksi antara dosen dan mahasiswa tak jarang bergeser menjadi transaksi administrasi yang kering. Dosen disibukkan oleh pemenuhan berkas administratif demi mengejar jabatan fungsional atau tunjangan sertifikasi, sementara mahasiswa memadati ruang kelas sekadar untuk memenuhi tenggat presensi dan mendapatkan nilai kelulusan.

Ilmu yang dipelajari menguap begitu ujian berakhir, karena sejak awal tujuan proses tersebut bukanlah pemahaman yang mengendap dalam jiwa, melainkan sekadar akumulasi kredit akademis. Kiai, dosen, dan pelajar kehilangan daya kritisnya terhadap persoalan sosial karena energi intelektual mereka habis terkuras untuk merawat simbol-simbol kekuasaan akademis yang mekanis.

Namun, menguji quote ini secara jernih menuntut kita untuk tidak serta-merta jatuh pada romantisisme yang mengharamkan seluruh bentuk kredensial formal. Apakah simbol, gelar, dan sertifikasi sepenuhnya buruk dan harus dimusnahkan demi mengembalikan “kesakralan ilmu”? Penelitian sosiologi kelembagaan justru menunjukkan perspektif sebaliknya yang tak kalah penting. Dalam masyarakat modern yang sangat kompleks dan anonim, simbol formal seperti ijazah dan sertifikasi profesi memainkan peran rasional yang tidak terelakkan sebagai mekanisme penjaminan mutu dan membangun kepercayaan publik.

Sebagaimana ditunjukkan oleh sosiolog Max Weber dalam teorinya tentang rasionalisasi dan birokrasi, institusi modern membutuhkan ukuran-ukuran objektif yang terstandarisasi untuk mencegah nepotisme, kesewenang-wenangan, dan klaim keahlian palsu yang tidak teruji. Tanpa ijazah atau sertifikasi medis yang ketat, masyarakat umum tidak akan memiliki cara yang aman untuk membedakan antara seorang dokter yang betul-betul terlatih dengan seorang penipu yang piawai bersilat kata.

Oleh karena itu, persoalan utamanya bukanlah keberadaan simbol itu sendiri, melainkan ketika terjadi deviasi fungsi di mana simbol menggantikan posisi substansi secara mutlak. Sintesis dari dialektika ini menunjukkan bahwa kredensial formal dan kedalaman keilmuan sejati tidak boleh dipertentangkan sebagai dua hal yang saling meniadakan, melainkan harus dikembalikan ke dalam tatanan hierarki yang proporsional.

Gelar, ijazah, dan akreditasi seharusnya berfungsi sebagai pencatat atau akibat dari sebuah proses pencarian keilmuan yang jujur, bukan sebagai tujuan utama yang melahap habis seluruh proses belajar itu sendiri. Kesakralan ilmu—sebagaimana disinggung dalam quote awal—bukan berarti mengisolasi ilmu pengetahuan ke dalam menara gading yang mistis, melainkan menjaga agar spirit pencarian kebenaran, kejujuran intelektual, dan kerendahan hati akademis tetap menjadi ruh utama di atas sekadar legalitas formal.

Refleksi atas analogi batu Makkah yang ditulis Prof. Quraish Shihab membawa kita pada sebuah pemahaman yang diperkaya oleh bukti-bukti ilmiah modern. Sama seperti kaum Makkah zaman dahulu yang awal mulanya mengambil batu atas dasar kecintaan yang murni pada Tanah Suci namun berakhir menyembah batu tersebut, dunia pendidikan kita berisiko besar mengalami bahaya berhalaisme akademis jika kita tidak bersikap kritis. Ijazah, gelar profesor, sertifikasi, dan jubah kealiman pada hakekatnya hanyalah sarana perantara—sepotong “batu” yang ditujukan untuk menandai perjalanan panjang pencarian ilmu pengetahuan.

Ketika kita berhenti menguji kedalaman berpikir kita dan mulai memuja kredensial formal sebagai penanda status semata, kita telah mengkhianati ruh pendidikan itu sendiri. Mengembalikan kesakralan ilmu berarti keberanian untuk selalu menembus batas-batas simbol, menuntut pertanggungjawaban kompetensi di balik gelar, dan menghidupkan kembali rasa ingin tahu yang tulus dalam dada setiap pembelajar.

Referensi Ilmiah

  • Akerlof, G. A. (1970). The Market for “Lemons”: Quality Uncertainty and the Market Mechanism. The Quarterly Journal of Economics, 84(3), 488–500. https://doi.org/10.2307/1879431

  • Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation (S. F. Glaser, Trans.). University of Michigan Press.

  • Deci, E. L., Koestner, R., & Ryan, R. M. (1999). A meta-analytic review of experiments examining the effects of extrinsic rewards on intrinsic motivation. Psychological Bulletin, 125(6), 627–668. https://doi.org/10.1037/0033-2909.125.6.627

  • Shihab, M. Q. (2011). Membaca Sirah Nabawiyah: Dalam Tekstual dan Kontekstual. Lentera Hati.

  • Strathern, M. (1997). ‘Improving ratings’: audit in the British University system. European Review, 5(3), 305–321. https://doi.org/10.1002/(SICI)1099-0941(199707)5:3<305::AID-EUR192>3.0.CO;2-4

  • Weber, M. (1978). Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of California Press.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *