Umroh antara Panggilan Ibadah dan Tuntutan Gaya Hidup

Oleh: Moh. Hasan Naufal

Artikel333 Views
banner 468x60

Fenomena meningkatnya jumlah jamaah umroh dalam beberapa tahun terakhir patut disyukuri sebagai tanda tumbuhnya kesadaran beragama di tengah masyarakat. Namun di balik semarak itu, muncul kegelisahan tersendiri: umroh tidak lagi sepenuhnya dimaknai sebagai perjalanan spiritual, melainkan perlahan bergeser menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol status sosial.

Salah satu indikasi yang mudah ditemui adalah maraknya ibadah umroh yang dijadikan konten media sosial. Mulai dari video keberangkatan, swafoto di depan Ka’bah, hingga dokumentasi thawaf dan sa’i yang diunggah secara masif. Tidak jarang, narasi yang dibangun lebih menonjolkan kemewahan fasilitas, hotel berbintang, dan label “umroh kesekian kali”, daripada refleksi batin dan nilai ibadah itu sendiri.

banner 336x280

Tentu, tidak ada larangan mendokumentasikan momen perjalanan, termasuk umroh. Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Namun persoalan muncul ketika niat ibadah tercampur dengan hasrat pengakuan sosial. Ketika umroh menjadi sarana eksistensi digital, ada risiko ibadah kehilangan ruhnya: keikhlasan.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh niat dan keikhlasan. Allah Swt. berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah harus dilandasi keikhlasan semata-mata karena Allah, bukan karena dorongan ingin dipuji atau diakui oleh manusia. Ketika ibadah dicampuri niat selain Allah, maka substansi ibadah tersebut dikhawatirkan akan berkurang nilainya.

Lebih jauh, Allah Swt. juga mengingatkan bahaya sikap pamer (riya’) dalam beramal:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Riya’ tidak selalu hadir dalam bentuk ibadah yang disengaja untuk dipamerkan, tetapi bisa tumbuh melalui kebiasaan mempertontonkan amal saleh demi memperoleh pengakuan sosial. Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang yang rawan menggeser orientasi ibadah dari mencari ridha Allah menuju pencarian validasi manusia.

Fenomena umroh sebagai gaya hidup juga berpotensi melahirkan standar kesalehan semu. Umroh dipandang sebagai simbol keberhasilan dan kemapanan, sehingga sebagian orang merasa terdorong melaksanakannya bukan karena kesiapan spiritual, melainkan karena tekanan sosial. Padahal Allah Swt. menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari simbol lahiriah, melainkan dari ketakwaannya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ..

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Belum lagi, para penyedia travel umroh yang perlu mengevaluasi kembali niat dsn makna sebagai pelayan tamu Allah. Jangan sampai niat mereka mencari jamaah hanya untuk sekedar mencari keuntungan materi semata apalagi sampai merugikan atau bahkan memperalat para jamaah umroh

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi mereka yang membagikan pengalaman umrohnya. Setiap orang memiliki niat dan latar belakang masing-masing. Namun, refleksi ini penting agar kita tidak kehilangan esensi ibadah di tengah arus budaya pamer dan konsumsi simbol keagamaan.

Pada akhirnya, umroh adalah perjalanan ruhani untuk membersihkan hati dan menundukkan ego. Jika umroh dijalani dengan niat yang lurus, maka buahnya tidak harus tampak di layar media sosial, melainkan tercermin dalam perubahan sikap hidup: lebih tawadhu’, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab. Sebab ibadah sejati adalah yang mendekatkan manusia kepada Allah, bukan yang mendekatkannya pada pujian manusia.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *