Di sebuah kota kecil, hiduplah dua orang sahabat yang tumbuh bersama sejak kecil. Mereka sama-sama bekerja keras, sama-sama bangun sebelum matahari terbit, dan sama-sama pulang ketika malam hampir larut. Dari luar, kehidupan mereka tampak tidak berbeda.
Yang pertama bernama Raka. Baginya, hidup adalah perlombaan yang tidak boleh kalah. Ia bekerja siang dan malam untuk memperbesar usaha, membeli rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih mewah, dan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. Setiap kali mencapai satu tujuan, ia segera membuat tujuan baru yang lebih tinggi lagi. Ia takut tertinggal. Ia takut miskin. Ia takut kehilangan pengaruh.
Yang kedua bernama Hasan. Ia juga bekerja keras. Ia juga mencari nafkah dan berusaha meningkatkan taraf hidup keluarganya. Namun ada satu hal yang berbeda. Setiap kali menerima gaji, ia menyisihkan sebagian untuk membantu orang lain. Setiap kali lelah bekerja, ia tetap menjaga salatnya. Ketika mendapat keuntungan, ia bersyukur. Ketika rugi, ia bersabar.
Suatu hari, keduanya bertemu di sebuah warung kopi setelah bertahun-tahun sibuk dengan urusan masing-masing.
“Aku heran,” kata Raka. “Kita sama-sama bekerja keras, tapi kau terlihat lebih tenang dariku. Padahal hartaku lebih banyak, usahaku lebih besar, dan relasiku lebih luas.”
Hasan tersenyum.
“Kita memang sama-sama bertahan hidup,” jawabnya. “Tetapi mungkin kita bertahan untuk tujuan yang berbeda.”
Raka mengernyitkan dahi.
“Maksudmu?”
“Kau bertahan hidup agar duniamu semakin besar. Sedangkan aku bertahan hidup agar akhiratku tidak kosong.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Hari-hari terus berlalu. Waktu yang selama ini terasa lambat ternyata berjalan sangat cepat. Rambut mereka mulai memutih. Tenaga yang dahulu kuat mulai berkurang. Banyak teman sebaya mereka satu per satu dipanggil menghadap Sang Pencipta.
Pada suatu malam, Raka duduk sendirian di ruang kerjanya yang megah. Di sekelilingnya terdapat berbagai penghargaan, sertifikat, dan foto-foto keberhasilan yang pernah ia banggakan. Namun untuk pertama kalinya ia bertanya kepada dirinya sendiri:
“Aku sudah bertahan hidup selama puluhan tahun. Tetapi sebenarnya untuk apa?”
Ia menyadari bahwa seluruh hidupnya dihabiskan untuk mempertahankan sesuatu yang pada akhirnya akan ia tinggalkan. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Harta akan ditinggalkan. Bahkan tubuh yang selama ini ia rawat pun suatu hari akan ditinggalkan.
Malam itu ia teringat ucapan Hasan.
“Kita memang sama-sama bertahan hidup. Tetapi mungkin kita bertahan untuk tujuan yang berbeda.”
Sejak saat itu, Raka tidak berhenti bekerja. Ia tetap mengembangkan usahanya dan tetap mencari rezeki. Namun arah hidupnya berubah. Ia mulai melihat hartanya sebagai amanah, bukan kebanggaan. Ia mulai melihat waktu sebagai kesempatan beramal, bukan sekadar kesempatan mencari keuntungan.
Karena ia akhirnya memahami sebuah kenyataan yang sederhana:
Semua orang berusaha untuk bertahan hidup.
Petani bertahan hidup. Pedagang bertahan hidup. Pejabat bertahan hidup. Buruh bertahan hidup. Orang kaya bertahan hidup. Orang miskin pun bertahan hidup.
Tetapi nilai hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa lama ia bertahan, melainkan untuk apa ia bertahan.
Apakah ia bertahan hidup untuk dunianya yang akan ditinggalkan?
Ataukah ia bertahan hidup karena akhiratnya yang akan ia datangi?

















