Banjir di Krejengan Probolinggo, Salah Siapa?

banner 468x60

Probolinggo – Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, menjadi kejutan besar bagi warga. Daerah yang selama ini relatif aman dari genangan air mendadak terdampak banjir, merendam permukiman, lahan pertanian, dan akses jalan utama. Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa banjir bisa terjadi sekarang, padahal pada tahun-tahun sebelumnya Krejengan tidak pernah mengalaminya?

Salah satu faktor utama yang paling terlihat adalah perubahan pola curah hujan. Intensitas hujan yang turun dalam waktu singkat jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hujan deras berkepanjangan membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air secara optimal. Ketika volume air yang turun melebihi daya serap tanah dan kapasitas aliran sungai, air pun meluap ke wilayah sekitar.

banner 336x280

Selain faktor cuaca, perubahan tata guna lahan turut berkontribusi besar. Dalam beberapa tahun terakhir, lahan terbuka dan area resapan air di sekitar Krejengan mulai berkurang. Alih fungsi lahan menjadi permukiman, kawasan industri kecil, atau lahan pertanian intensif membuat air hujan tidak lagi memiliki ruang untuk meresap ke dalam tanah. Akibatnya, air mengalir langsung ke saluran dan sungai dalam jumlah besar secara bersamaan.

Kondisi sungai dan saluran drainase juga menjadi penyebab yang tak bisa diabaikan. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi, tumpukan sampah, serta pertumbuhan tanaman liar di bantaran sungai mempersempit aliran air. Saat debit meningkat drastis, sungai tidak mampu menampung aliran tersebut dan akhirnya meluap ke daerah yang lebih rendah, termasuk permukiman warga.

Secara geografis, sebagian wilayah Krejengan berada di dataran yang menerima aliran air dari daerah yang lebih tinggi di sekitarnya. Ketika hujan deras terjadi di kawasan hulu, air akan bergerak ke hilir dengan cepat. Jika aliran ini tidak diimbangi dengan sistem pengendalian air yang memadai, maka wilayah hilir berisiko tergenang meskipun sebelumnya tidak pernah mengalami banjir.

Faktor lain yang mulai dirasakan adalah menurunnya daya dukung lingkungan. Penebangan pohon di kawasan tertentu, berkurangnya vegetasi penahan air, serta perubahan struktur tanah membuat limpasan air permukaan semakin besar. Dalam kondisi ekstrem, kombinasi semua faktor ini bisa memicu banjir bahkan di wilayah yang selama puluhan tahun tergolong aman.

Peristiwa banjir di Krejengan menjadi peringatan bahwa risiko bencana bersifat dinamis dan dapat berubah seiring waktu. Wilayah yang dulunya aman tidak otomatis akan selalu aman, terutama ketika perubahan iklim dan aktivitas manusia terus berlangsung tanpa pengelolaan yang seimbang. Ke depan, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, pengelolaan sungai, serta tata ruang wilayah agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed