Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatera Utara beberapa waktu lalu kembali memicu banjir bandang dan longsor yang memorak-porandakan desa-desa di kaki gunung. Air keruh bercampur lumpur serta sisa-sisa kayu meluncur deras dari kawasan hulu, menghantam rumah warga dan menenggelamkan ladang-ladang yang selama ini menjadi sumber penghidupan. Namun di balik bencana yang tampak tiba-tiba itu, ada persoalan besar yang telah lama dibiarkan: hilangnya hutan yang dulu menjadi pelindung alami pulau Sumatera.
Dalam dua dekade terakhir, Sumatera telah kehilangan tutupan hutan dalam jumlah mencengangkan. Pohon-pohon besar yang dulu menjaga tanah tetap kokoh kini berganti menjadi lahan terbuka, perkebunan komersial, atau area yang dibiarkan kritis. Ketika hutan hilang, kemampuan tanah menyerap air hujan ikut menghilang. Air tak lagi meresap perlahan, melainkan meluncur seperti gelombang liar yang membawa murka. Para ahli menyebutnya bukan sekadar bencana alam, tetapi bencana ekologis akibat ulah manusia sendiri.
Dampaknya terasa langsung di tengah masyarakat. Ribuan warga terpaksa mengungsi, rumah hanyut, anak-anak kehilangan sekolah, sementara petani kehilangan ladang tempat mereka menggantungkan hidup. Korban meninggal dan hilang terus bertambah, membuat tragedi ini menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Warga desa yang dulu hidup dekat dengan hutan kini hidup dalam kecemasan setiap kali awan gelap berkumpul di langit.
Di tengah situasi ini, sorotan kembali mengarah pada lemahnya tata kelola lingkungan. Alih fungsi lahan di kawasan hulu DAS, perizinan yang tumpang tindih, serta praktik pembukaan hutan tanpa pertimbangan ekologis menjadi akar masalah yang tak kunjung terselesaikan. Para pegiat lingkungan mendesak pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh, memperkuat penegakan hukum, dan menghentikan pemberian izin baru di kawasan-kawasan rawan.
Meski begitu, masih ada harapan. Komunitas lokal dan beberapa organisasi mulai melakukan restorasi, menanam kembali pohon-pohon yang hilang, dan membangun kesadaran bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Upaya kecil ini memang tidak langsung menghilangkan risiko bencana, namun menjadi pijakan penting untuk memulihkan tanah yang telah lama terluka.
Tragedi di Sumatera mengingatkan bahwa kerusakan alam selalu menagih harga yang mahal. Selama hutan terus ditebang dan lahan gambut terus dikeringkan, bencana akan datang lagi—mungkin lebih besar dan lebih menyakitkan. Alam telah memberi tanda yang jelas, dan kita tak lagi memiliki kemewahan untuk mengabaikannya.













