Merawat Alam sebagai Ibadah: Ekoteologi di Majelis Ta’lim Was Sholawat

Oleh: Moh. Hasan Naufal

Artikel21 Views
banner 468x60

Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan lingkungan, ajaran Islam sebenarnya telah lama menawarkan solusi melalui nilai-nilai spiritual yang menyatu dengan alam. Salah satu pendekatan yang kini mulai digali kembali adalah ekoteologi—pemahaman tentang hubungan manusia, Tuhan, dan alam semesta dalam kerangka ibadah.

Apa Itu Ekoteologi?

Ekoteologi adalah kajian yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam Islam, dengan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Dalam Islam, manusia disebut sebagai khalifah—pemimpin di bumi—yang punya tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah.

banner 336x280

Ajaran ini tidak hanya sebatas teori, tapi telah dipraktikkan secara nyata, salah satunya melalui majelis ta’lim was sholawat yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Probolinggo.

Majelis Ta’lim Was Sholawat: Dakwah yang Ramah Lingkungan

Majelis ta’lim was sholawat bukan hanya tempat pengajian dan bersholawat. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan mereka mulai merambah pada isu-isu lingkungan seperti penanaman pohon, gerakan bersih-bersih lingkungan, hingga edukasi pengurangan sampah plastik.

Nilai-nilai tentang cinta lingkungan disampaikan melalui ceramah, kajian tafsir ayat-ayat Al-Qur’an, kajian Hadits Nabi, qudwah para ulama hingga melalui praktik sosial langsung. Misalnya, hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa menanam pohon, mengirit air saat melakukan ritual wudhu tiba adalah bentuk bentuk ibadah, menjadi motivasi bagi mereka untuk tetap peduli terhadap alam.

Tradisi Lokal dan Kesadaran Ekologis

Uniknya, semangat ekoteologi ini juga terwujud melalui tradisi-tradisi lokal seperti sedekah bumi, nyadran, atau pembersihan desa yang biasa dilakukan bertepatan dengan peringatan hari-hari besar Islam. Tradisi ini menyatukan nilai spiritual dan budaya masyarakat dengan upaya menjaga alam.

Majelis ta’lim memanfaatkan kekuatan simbol dan ritual ini sebagai media menyampaikan pesan-pesan keislaman yang mengajak umat untuk mencintai dan merawat lingkungan.

Tantangan dan Peluang

Meski potensinya besar, masih ada tantangan dalam menyatukan pemahaman ekoteologi dengan praktik keagamaan sehari-hari. Banyak umat yang fokus pada ibadah ritual, namun belum sepenuhnya sadar bahwa merawat lingkungan juga bagian dari ibadah.

Namun demikian, kekuatan dakwah majelis ta’lim yang dekat dengan masyarakat membuatnya berpeluang besar menjadi agen perubahan. Lewat pengajian rutin, kegiatan sosial, dan pendekatan budaya lokal, nilai-nilai ekoteologi bisa terus ditanamkan secara konsisten dan membumi.

Penutup

Majelis ta’lim was sholawat di Kabupaten Probolinggo membuktikan bahwa Islam bukan hanya soal hubungan dengan Tuhan, tapi juga hubungan dengan sesama dan alam. Ketika nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis disatukan dalam satu gerakan dakwah, maka bukan hanya iman yang tumbuh, tapi juga kesadaran menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.

Merawat alam bukan sekadar aktivisme, melainkan ibadah yang penuh berkah

Diganti

Merawat alam bukan sekedar aktivisme, tapi komitmen ibadah kauniyah yang menyeluruh.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *