Probolinggo — Pesantren mulai memperkuat penerapan Pendidikan Diversitas sebagai strategi pembelajaran yang menekankan penghargaan terhadap keragaman dan pembentukan karakter multikultural santri. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi sosial Indonesia yang plural dan beragam.
Pendidikan diversitas merupakan konsep pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai persamaan, toleransi, keadilan, serta pengakuan terhadap perbedaan budaya, etnis, bahasa, dan agama dalam proses pembelajaran. Di lingkungan pesantren, pendekatan ini diadaptasi melalui kombinasi kurikulum, kultur, dan keteladanan.
Pengamat pendidikan pesantren, Muhammad Hifdil Islam, menjelaskan bahwa pesantren secara historis merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang sosial dan budaya. Karena itu, pendidikan diversitas bukan hanya relevan, tetapi juga menjadi kebutuhan untuk menyiapkan santri menghadapi dinamika masyarakat modern.
“Pesantren sejak dulu adalah miniatur Indonesia. Santri datang dari berbagai daerah dan membawa budaya masing-masing. Pendidikan diversitas menjadi sarana untuk mengelola keragaman itu agar melahirkan santri yang toleran, moderat, dan siap hidup di masyarakat plural,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan diversitas dalam pesantren dapat diterapkan melalui tiga aspek utama. Pertama, kurikulum inklusif, yaitu materi pembelajaran yang memberi ruang bagi nilai-nilai kemanusiaan universal, wawasan kebangsaan, dan dialog budaya. Kedua, pembiasaan sehari-hari, seperti praktik hidup bersama, gotong royong, dan resolusi konflik secara damai. Ketiga, keteladanan kiai dan ustaz, yang memainkan peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai Aswaja seperti tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal.
Implementasi pendidikan diversitas juga dinilai mampu memperkuat karakter santri sebagai duta perdamaian. Santri tidak hanya dibekali kemampuan ilmu agama, tetapi juga kecakapan sosial seperti empati, kemampuan berdialog, serta sikap terbuka terhadap perbedaan.
“Jika diterapkan secara sistematis, pendidikan diversitas bisa melahirkan santri yang bukan hanya saleh secara spiritual, tetapi juga matang secara sosial. Ini sangat penting di tengah meningkatnya tantangan intoleransi di ruang publik,” tambah Hifdil.
Beberapa pesantren di Probolinggo dan Jawa Timur mulai menyusun program khusus yang mengintegrasikan pendekatan ini. Mulai dari pelatihan budaya, kelas diskusi lintas budaya, hingga penyusunan kurikulum berbasis nilai kebinekaan.
Kementerian Agama sebelumnya juga mendorong penguatan moderasi beragama di pesantren. Pendidikan diversitas dianggap sebagai salah satu pendekatan praktis yang dapat memperkuat tujuan tersebut.
Dengan hadirnya model pendidikan ini, pesantren diharapkan mampu mempertahankan identitas klasiknya sekaligus menjawab tantangan zaman. Hifdil Islam menegaskan bahwa inovasi seperti ini merupakan bagian dari proses modernisasi pesantren tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Pesantren harus tetap teguh dalam nilai-nilai keislaman, tetapi juga adaptif. Pendidikan diversitas adalah jembatan antara tradisi dan kebutuhan sosial modern,” katanya.
Implementasi pendidikan diversitas diproyeksikan akan terus berkembang dan menjadi bagian penting dari strategi pembentukan karakter santri di masa depan.









